Tuesday, November 22, 2011

Ke Arah Mencari Erti Kehidupan !


HAWA NAFSU MANUSIA


Allah SWT. menciptakan manusia sebagai khalifah yang menguasai dan mendayagunakan bumi dan alam sekitarnya untuk kesejahteraan manusia.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah: 30)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al-Baqarah: 29)

Kesemuanya itu dalam rangka ikhlas beribadah mengabdi kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Adzariyat: 56)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Al-Bayyinah: 5).

Agar misi sebagai khalifah dapat berjalan, Allah memberi nafsu pada diri manusia sebagai sumber pendorong perubahan dan perkembangan selama manusia masih hidup. Pada nafsu itu diberi ilham tentang manakah keinginan-keinginan baik yang dibenarkan dan diridhai oleh Allah SWT. sehingga setiap proses mewujudkan keinginan-keinginan itu dapat bernilai ibadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Serta manakah keinginan-keinginan buruk yang apabila diperturutkan maka proses mewujudkannya adalah maksiat kepada Allah SWT. Firman Allah:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (As-Syams: 7-10).

Selain nafsu, Allah SWT. juga menciptakan akal pikiran pada diri manusia, yang berfungsi sebagai pembantu nafsu dalam mempertimbangkan suatu keinginan, apakah mungkin atau tidak mungkin, logis atau tidak logis, bermanfaat atau tidak bermanfaat, baik atau buruk, diridhoi Allah atau dimurkai, dan seterusnya sekaligus mencarikan alternatif cara dan proses apabila ia diwujudkan. Dan sebagai standar penilaian itu adalah Al-Qur’an, wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (Al-Baqarah: 269)

Hawa nafsu sebagai sumber dan pendorong segala keinginan pada diri manusia, dalam proses memunculkan suatu keinginan dan usaha untuk mewujudkannya, ada yang mendapat rahmat Allah sehingga mengikuti ilham dari Allah untuk selalu bertaqwa kepada-Nya. Ia bersedia dengan ikhlas mengikuti jalan Allah yang lurus, dan tidak berani untuk mendustai-Nya. Ia merasa aman dan tentram selalu berada dalam keridhaan-Nya dan menolak untuk bermaksiat kepada-Nya. Inilah nafsu yang disebut dengan “Nafsu Mutmainnah” yang akan dipanggil oleh Allah untuk menghadap dan bersemayam dengan tentram di sisi-Nya, seperti dalam firman Allah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي. وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Al-Fajr: 27-30)

Namun ada pula yang sebaliknya. Nafsu yang merasa puas dan tentram jika bermaksiat kepada Allah, menolak dengan keras segala seruan untuk mengabdi kepada Allah. Ia lebih suka mengikuti seruan syaithan. Ini seperti pada saat iblis raja syaithan menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Iblis saat itu mengikuti hawa nafsu sombongnya yang menganggap bahwa dia lebih mulia dari pada Adam sebaba ia diciptakan oleh Allah dari api sedangkan Adam dari tanah. Firman Allah:

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُواْ لِآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ لَمْ يَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ. قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Al-A’raf: 11-12).

Hawa nafsu yang senang bermaksiat dan mendurhakai Allah ini disebut dengan “Nafsu Amarah bi Su’” (Nafsu yang menyuruh kepada kejelekan), sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Yusuf dalam firman Allah:

وَمَا أُبَرِّىءُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Yusuf: 53)

Kemudian, nafsu itu juga mempunyai sifat tidak pernah puas terhadap segala keinginan yang telah terwujud atau dalam proses perwujudannya. Jika nafsu mendorong untuk berbuat suatu kebajikan lalu berhasil mewujudkannya, maka ia akan menyesal mengapa tidak lebih banyak lagi kebajikan dapat ia wujudkan. Dalam posisi ini, sifat nafsu ini adalah baik dan mulia. Namun jika sebaliknya, nafsu amarah bi su’ yang mendorong kepada kejelekan dan berhasil mewujudkannya, maka ia pun tidak merasa puas, bahkan menyesali mengapa tidak lebih banyak lagi kemaksiatan ia wujudkan sehingga tercapai kepuasan, meskipun pada hakekatnya kepuasan yang ia kehendaki tidak mungkin akan tercapai. Rasulullah SAW. bersabda:

لوكان لإبن أدم واد من مال لابتغى اليه ثانيا ولو كان له واديان لابتغى لهما ثالثا ولايملأ جوف ابن أدم الا الترب ويتوب الله من تاب.

“Andaikata anak Adam memiliki satu lembah berisi harta pasti dia berharap untuk mendapatkan lembah yang kedua. Dan seandainya ia telah memiliki dua lembah berisi harta, pastilah dia berharap lembah yang ke tiga. Tidak ada yang dapat memenuhi keinginan perut anak Adam kecuali tanah (mati dikubur). Allah menerima taubat setiap orang yang bertaubat kepada-Nya”. (HR: Ahmad, Bukhari, Muslim dan Tirmizi).

Sifat nafsu ini disebut dengan “Nafsu Lawwamah”, sebagaimana firman Allah:

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”. (Al-Qiyamah: 2)

Dalam penyesalan karena ketidak puasannya, nafsu lawwamah yang mengikuti nafsu amarah bi su’ berkeluh kesah seperti dalam Firman Allah:

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا. إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا. وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (Al-Fajr: 15-16)

Inilah sekelumit hawa nafsu manusia. Hawa nafsu ini bersemayam dalam hati. Hati bukan dalam arti fisik berupa segumpal daging dalam tubuh yang terletak di dada kiri, tapi hati dalam arti yang lebih lembut dan abstrak yang disebut oleh Allah dan Rasulullah sebagai pusat pengendali baik dan buruk amal manusia. (Sekelumit tentang hati kami tulis di bawah. Insha Allah bahasan lebih lanjut pada tulisan lain).

Di dalam hati, hawa nafsu mutmainnah dan amarah bi su’ saling berebut pengaruh untuk menjadi sumber pendorong dalam setiap keinginan yang akan diwujudkan oleh manusia. Seluruh panca indera dan anggauta badan yang lain adalah sumber informasi untuk terwujudnya suatu kegiatan sekaligus sebagai pelaksana dalam mewujudkan keinginan itu.

Allah Maha Mengetahui, oleh sebab seluruh panca indera dan anggauta badan adalah sumber informasi dan sekaligus pelaksana hawa nafsu, maka Allah menurunkan tata aturan bagaimana mendayagunakan seluruh panca indera dan anggauta badan yang benar dan diridhai-Nya sehingga setiap perbuatan yang dihasilkan maka akan bernilai ibadah kepada-Nya.

Manusia dihiasi syahwat cinta kepada wanita, anak-anak, dan harta benda dunia lainnya, sehingga seluruh panca indera dan anggauta badan lainnya pun bekerja memberikan informasi kepada hati tentang apa yang ia lihat dan ingin rasakan, dan Allah pun menunjukkan bagaimana syahwat cinta kepada semuanya itu dimulai dari proses pemberian informasi sampai proses perwujudan kenikmatan dapat bernilai ibadah kepada-Nya.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan syahwat kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Ali-Imron: 14)

Sedikit contoh kami berikan, ketika mata seorang lelaki jatuh menatap wanita cantik di hadapannya, informasi ini dikirim ke dalam hati, lalu hiasan syahwat cinta kepada wanita yang diberikan Allah kepada manusia mendorong hawa nafsu merespon dengan beragam keinginan. Lalu Allah memberikan bimbingan kepada nafsu seperti dalam hadis Rasul SAW. bahwa: Pandangan pertama kepada segala sesuatu adalah memang pekerjaan mata, akan tetapi pandangan berikutnya adalah respon nafsu terhadap apa yang ia lihat, maka berhati-hatilah, kalau nafsu amarah bi su’ yang menguasai, maka pandangan yang berikutnya itu akan dikenai hisab oleh Allah. Dan Allah-pun mengajarkan bagaimana memandang yang dibenarkan, ialah pandangan ketika berta’aruf dan meminang untuk dijadikan isteri sah dalam rangka beribadah kepada-Nya saja yang dibenarkan.

Untuk ini Rasulullah SAW. bersabda:

قال رسول الله صلىالله عليه وسلم: لا يؤمن أحدكم جتى يكون هواه تبعا لما جئت به.

Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa” .

Rasulullah SAW. Juga memberi petunjuk kepada hati ketika nafsu mutmainnah dan amarah bi su’ saling berebut pengaruh:

عن وابصة بن معبد رضىالله عنه قال أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال جئت تسأل عن البر؟. قلت نعم. قال استفت قلبك البر مااطمأنت اليه النفس واطمأن إليه القلب. والإثم ماحاك فى النفس وتردد فى الصدر وإن افتاك الناس وأفتوك

“Wabishah bin Ma’bad r.a berkata: Aku mendatangi Rasulullah SAW, lalau beliau bertanya: “Engkau datang hendak menanyakan tentang kebaikan?”. Aku menjawab: “Ya!”. Nabi bersabda: “Mintalah fatwa pada hatimu. Kebaikan adalah apa-apa yang jiwa/nafsu dan hatimu merasa aman dan tentram. Sedangkan dosa adalah apa-apa yang menimbulkan keraguan dalam jiwa/nafsu dan hatimu meski kau meminta pendapat atau diberi pendapat oleh orang lain”. (HR. Ahmad bin Hambal dan Ad-Darimi)

BERANG BAKAR KAUNTER ! KALAH BAKAR APA ?



Penyokong Indon Berang Membakar Kaunter Tiket.

 Dah Kalah nak Bakar Apa Pula?

Gara-gara tiket final habis,kaunter tiket di stadium Gelora Bung Karno DIBAKAR!!
Apa punya perangai la puak-puak ni!

UPDATE! Apa pulak nak dibakar ye?
Kecewa kerana tidak mendapatkan tiket pada perlawanan final antara Indonesia vs Malaysia,para penyokong bola sepak Indonesia berang terus membakar kaunter tiket stadium bung karno jakarta sehingga hangus terbakar,kemalangan berlaku petang semalam dan tidak membabitkan kemalangan jiwa dan tiada tangkapan dibuat oleh polis.

Akhirnya Malaysia menang pingat emas di Temasya Sukan Sea Indonesia sebentar tadi. 

Malaysia sememangnya berdepan detik sukar untuk menang dengan dipaksa bermain sehingga sepakan penalti walaupun selepas masa tambahan 30 minit diberikan pengadil. 

Salam Perjuangan !

Saturday, November 19, 2011

Jauhi Dakyah Yang Songsang !


habibbourguiba
Habib Bourguiba
“Kenapa dia berkata begitu? Dia tak faham al-Quran dan Sunnah ke?” seorang hadirin ceramah mengkritik.
“Apa dia tidak baca sirah? Buta sejarah?” tambah seorang lagi.
Semua naik angin.
Marah dengan Habib Bourguiba.
Beliau adalah Presiden Tunisia yang pertama, memerintah dari tahun 1957 hingga 1987.  Bourguiba selalu disinonimkan dengan Mustafa Kemal Ataturk kerana keghairahannya kepada pembaratan yang disamakan dengan pemodenan.
Isunya ialah pada tahun 1961. Habib Bourguiba telah mengeluarkan arahan tidak membenarkan penjawat awam di negaranya, Tunisia, berpuasa di bulan Ramadhan. Bagi menegaskan arahan itu, beliau dan anggota kabinetnya telah muncul secara langsung di kaca televisyen pada tengah hari bulan Ramadhan dan mereka makan beramai-ramai.
Alasan Habib Bourguiba senang sahaja, berpuasa mengurangkan produktiviti negara!
SINIS AGAMA
Pandangan Habib Bourguiba itu, jika mahu dikategorikan, ia termasuk di dalam apa yang dinamakan sebagai Religious Skepticism.
Pemikiran skeptik atau sinis terhadap agama ini berperingkat.
Ada sinis yang merujuk kepada beberapa aspek di dalam ajaran agama. Seseorang itu mungkin sinis dengan hukum membasuh jilatan anjing dengan tanah. Atau hukum menutup aurat. Mungkin juga soal harta pusaka yang dibahagikan dua bahagian kepada pewaris yang lelaki dan satu bahagian kepada pewaris yang perempuan.
Ada juga pemikiran skeptik, ditujukan kepada institusi agama. Misalnya, anti ‘orang masjid’, mungkin juga kepada pihak berkuasa agama seperti JAWI, JAIS, JAKIM dan lain-lain. Tidak lupa dengan alergi mereka kepada parti politik Islam, atau badan-badan yang menjadikan Islam sebagai identiti organisasi mereka.
Peringkat ketiga pula, ialah pemikiran skeptik terhadap keseluruhan ajaran agama. Mereka tidak semestinya anti Tuhan atau atheist namun mereka sinis terhadap semua agama yang dianggap sebagai doktrin yang penuh kecurigaan.
Walau apa pun bentuk Religious Skepticism yang muncul, kesemuanya adalah tindak balas (response). Apabila diertikan sebagai tindak balas, tentu ada sesuatu yang berlaku sebagai reaksi kepada kejadian tersebut. Ia bukan asal, tetapi ia adalah tindak balas kepada sesuatu yang telah mengambil tempat terlebih dahulu.
YASMIN AHMAD DALAM KENANGAN
yasminahmad
Terkini, ASTRO mendedikasikan saluran 110 sebagai tribute kepada Allahyarham Yasmin Ahmad dengan menyiarkan koleksi filem terbitan atau arahan beliau seperti Sepet dan Gubra.
Jika kita menonton dengan teliti sebarisan filemnya bermula daripada Rabun, kepada Sepet, Gubra, Mukhsin, Muallaf dan terkini Talentime, ada sesuatu yang konsisten di dalam semua sentuhan karya Yasmin Ahmad. Selain sentuhan kreatif yang unik, filem-filem Yasmin Ahmad konsisten dengan tema atau elemen Religious Skepticism. Penonjolan babak imam yang mesra dengan jiran-jirannya yang pelacur di dalam filem Gubra, hubungan cinta antara seorang gadis Melayu dengan anak muda Cina, malah anjing yang dibelai mesra oleh bilal masjid, semua itu adalah simbol dalam menterjemahkan apa yang dinamakan sebagai pemikiran skeptik terhadap agama.
Oleh kerana Religious Skepticism semakin berleluasa mendominasi pemikiran masyarakat khususnya di dalam kelompok urban, maka hasil karya Yasmin Ahmad semacam menjadi jurucakap untuk meluahkan pandangan ini yang sejak sekian lama tidak mudah untuk diketengahkan ke perhatian massa. Yasmin Ahmad menerima penghormatan dan pengiktirafan yang sungguh luar biasa.
Jika kita bersetuju bahawa Religious Skepticism itu ialah satu bentuk tindak balas, maka datang soalan kedua; pemikiran Religious Skepticism yang ada pada Yasmin Ahmad datangnya sebagai tindak balas kepada apa? Apakah pengalaman yang telah ditempuh oleh graduan Ijazah Psikologi daripada England ini?
Saya tidak mempunyai sebarang penjelasan kerana saya tidak mengenali beliau secara peribadi. Namun mungkin beliau menempuh episod hidup yang penuh dengan peristiwa berbentuk penilaian, hukuman, malah mungkin sindiran dan cemuhan yang menggalakkan skepticism itu semakin meruncing.
Jika kita tidak berpuas hati dengan mesej-mesej Yasmin Ahmad, mari berjiwa besar untuk berani menyoal diri. Adakah Religious Skepticism itu bulat-bulat ditujukan ke atas beliau, atau ada sesuatu yang mendominasi kecenderungan masyarakat kita hingga menggalakkan pemikiran seperti itu? Sebahagian jari yang menunding, mungkin perlu balik kepada diri.
SISTERS IN ISLAM
sm_6zainah
Zainah Anwar, teraju utama Sisters in Islam
Satu lagi topik yang berkait rapat dengan Religious Skepticism ialah sebuah pertubuhan yang dikenali sebagai Sisters in Islam SIS). Pertubuhan ini mempunyai peranan yang signifikan dalam memperjuangan beberapa aspek bersangkutan hal kebajikan kaum wanita Muslim dan ia tidak boleh dinafikan. Kelancaran proses mahkamah yang mesti diperkemaskan agar wanita Muslim tidak menderita digantung tidak bertali, adalah di antara subjek yang banyak disentuh oleh sukarelawan SIS yang amat komited.
Namun, ada sesuatu yang juga konsisten dalam pemikiran dan ucapan tokoh-tokoh utamanya. Elemen yang saya maksudkan itu ialah Religious Skepticism. Keketaraannya lebih terasa dalam aspek sinis mereka kepada institusi agama yang dilihat tidak bertindak wajar dalam hal kesamarataan, keadilan, kebebasan dan kemuliaan kaum wanita Muslim di negara kita.
Mendesak agar al-Quran ditafsir semula, bukanlah suatu isu baru. Tetapi mendesaknya dengan alasan ahli-ahli Tafsir dahulu semuanya lelaki, lalu hukum yang keluar bersifat male chauvanist,adalah suatu manifestasi kepada Religious Skepticism. Rramai sukarelawan yang terbabit di dalam gerakan-gerakan pembelaan wanita seperti Sisters in Islam, membawa mesej yang boleh digunapakai untuk memperbaiki banyak aspek perlaksanaan Islam, tetapi mencetus banyak kontroversi kerana ia diperjuangkan secara sinis atau skeptik.
Sedikit sebanyak pemikiran yang bersarang dengan prejudis kepada lelaki dan institusi agama ini mungkin berpunca daripada pengalaman diri sukarelawan tersebut berkaitan dengan lelaki.
Menyaksikan bapa mendera ibu yang diperhambakan dalam sebuah perkahwinan.
Melihat penindasan yang berlaku ke atas janda yang tergantung hidup oleh suami yang enggan mentalakkannya, tetapi terus menerus mendera emosi dan mungkin fizikal isteri.
Menjadi mangsa kejahatan lelaki.
Atau terus menerus dihentam golongan yang tidak bersetuju, kebetulannya mereka itu adalah ustaz, mufti, ulama, yang semuanya adalah lelaki.
Religious Skepticism adalah reaksi.
Ada sesuatu yang berlaku sebelum pemikiran skeptik itu menguasai.
Jika kita tidak berpuas hati dengan mesej-mesej Sisters in Islam, mari berjiwa besar untuk berani menyoal diri. Adakah Religious Skepticism itu bulat-bulat dibebankan ke atas mereka, atau ada sesuatu yang mendominasi kecenderungan masyarakat kita hingga menggalakkan pemikiran seperti itu? Sebahagian jari yang menunding, mungkin perlu balik kepada diri.
Sesuatu yang perlu difikirkan.
BENJAMIN STEPHEN
badrulhisyam
Anak muda ini adalah bekas pelajar sebuah sekolah agama terkemuka di negeri Perak.
Bukan sedikit ilmu agamanya.
Tetapi hari ini, anak Perak yang dahulunya dikenali sebagai Badrul Hisyam, telah murtad dan menjadi pendakyah Kristian.
Apabila saya mendengar ceramah-ceramah yang beliau sampaikan di gereja dan di khalayak Kristian, saya mengesan sesuatu yang amat konsisten di dalam ceramah beliau. Ceramahnya tidak ilmiah dan tidak membantu Kristian memahami Bible. Sebaliknya, hampir keseluruhan ceramah beliau berbahasa skeptik dan sentiasa sinis serta menyindir serba serbi yang berkaitan dengan Islam dan Muslim. Malah ibu bapanya sendiri turut disindir dan diejek.
Tatkala bertanyakan kepada pelajar-pelajar sekolah beliau yang mengenalinya, anak muda ini yang berpewatakan lembut di sekolah sering diejek, dikutuk atau dalam bahasa rasminya dibuli, di sepanjang pengalamannya di sekolah. Pengalaman seperti ini sangat berpotensi untuk membentuk satu pola pemikiran memberontak yang luar biasa.
Akhirnya Badrul Hisyam dengan sinis dan skeptik beliau terhadap semua yang dialaminya tentang Islam dan Muslim, beliau murtad. Sesuatu yang mungkin tidak disangka oleh senior yang pernah membulinya!
Semasa mendengar ceramah beliau, saya terfikir, adakah Benjamin Stephen ini mengkritik Islam, atau mengkritik Sekolah Menengah Agamanya?
Jika kita tidak berpuas hati dengan mesej-mesej Benjamin Stephen, mari berjiwa besar untuk berani menyoal diri. Adakah Religious Skepticism yang luar biasa itu ditujukan segala-galanya ke atas beliau, atau ada sesuatu yang mendominasi kecenderungan masyarakat kita hingga menggalakkan pemikiran seperti itu? Sebahagian jari yang menunding, mungkin perlu balik kepada diri.
KASSIM AHMAD
mencari-jalan-pulang
Tidak dilupakan, tatkala saya membaca buku mutakhir Kassim Ahmad bertajuk MENCARI JALAN PULANG, saya melihat adanya unsur yang sama di sebalik pemikiran beliau. Sama ada ia berkaitan dengan Parti Sosialis pimpinannya, atau pun pemikiran yang dilabel sebagai anti Hadith.
Kassim Ahmad tidak sama sekali menafikan kenabian Muhammad sallallaahu ‘alayhi wa sallam.
Tetapi beliau mengkritik sistem ilmu Hadith khususnya berkaitan dengan kredibiliti perawinya.
Di manakah kritikan itu bermula?
Berasal daripada kekecewaan Kassim Ahmad terhadap pemikiran dan sikap orang-orang agama yang ditemui di usia mudanya, ia berkembang kepada mempertikaikan institusi Ulama’ dan seterusnya hingga kepada pada perawi yang kesahihan Hadith banyak bergantung kepada kredibiliti perawi-perawi ini.
Ya.
Religious Skepticism yang ringan-ringan boleh berkembang menjadi satu pola pemikiran yang amat rumit dan membingungkan.
Jika kita tidak berpuas hati dengan mesej-mesej Kassim Ahmad, mari berjiwa besar untuk berani menyoal diri. Adakah Religious Skepticism itu bulat-bulat ditujukan ke atas beliau, atau ada sesuatu yang mendominasi kecenderungan masyarakat kita hingga menggalakkan pemikiran seperti itu? Sebahagian jari yang menunding, mungkin perlu balik kepada diri.
PUNCA PEMIKIRAN SKEPTIK TERHADAP AGAMA
Tidak dinafikan, manusia akan membentuk set of values mereka hasil pengalaman hidup dan pendedahan yang dialami. Kesan daripada pelbagai kejadian yang ditempuh oleh setiap kita dalam kehidupan, banyak mempengaruhi pertimbangan kita dalam menilai apa yang baik dan apa yang buruk.
Oleh kerana itu, Islam datang untuk meluruskan nilai ini agar manusia tidak terhoyong hayang di sepanjang tempat dan zaman dalam menentukan apa yang baik serta apa yang buruk tentang hidup ini semata-mata berbekalkan pengalaman diri. Jalan yang lurus (Sirat Mustaqim), diungkapkan berkali-kali dalam sehari semasa kita bersolat kerana jalan yang lurus itulah penentu kepada kedudukan masing-masing. Sejauh mana kita selari dengannya, atau sudah sejauh manakah kita terpesong dari landasan asal.
Namun, manusia akan mengalami krisis terhadap agama apabila mereka berdepan dengan suasana realiti yang terlalu jauh daripada apa yang dilakarkan oleh idea dan nas. Penghormatan adalah sesuatu yang terhasil daripada kualiti. Tatkala pendukung agama yang mewakili suara agama mengalami kemerosotan kualiti, rasa hormat itu mula terhakis. Tatkala hakisan itu berlaku, agamawan dan institusi agama terus kekal dengan grandiose attitude yang menambahkan rasa meluat serta benci kelompok yang tidak gentar dengan mereka.
Sebagaimana gereja hilang tempat daripada masyarakat akibat grandiose attitude itu, ia juga sedikit demi sedikit menimpa umat Islam. Rasa jelek dan meluat sekelompok masyarakat melihat sesetengah agamawan yang sombong dalam mempertahankan hujah-hujah ‘tidak masuk akal’ mereka, menambahkan kerumitan kepada berleluasanya pemikiran skeptik terhadap agama ini.
Misalnya, temuramah Gala TV di Astro 110 bersama Yasmin Ahmad, mendatangkan contoh yang boleh diberi perhatian.
Ketika filem Gubra dikritik kerana adegan bilal masjid menyentuh anjing, Yasmin Ahmad menegaskan bahawa sesuatu yang amat menghairankan apabila orang-orang agama ini yang kelihatannya berpelajaran tinggi di satu sudut, hakikatnya mereka tidak arif tentang ilmu Biologi (yang sepatutnya dikuasai oleh umat Islam atas galakan agama kita sendiri, kata beliau).
“Anjing itu kalau najis pun, menyentuhnya tidak haram!” kata Yasmin.
“Orang agama tidak faham Biologi. Jika mereka faham Biologi, mereka akan tahu bahawa anjing merembeskan peluhnya melalui lidah dan hidung…” tegas beliau lagi.
Saya tidak dapat mengesan apakah yang cuba dimaksudkan oleh Yasmin dengan kenyataan itu.
Tetapi beliau mungkin terkesan dengan hukuman-hukuman yang dikenakan ke atas dirinya oleh ustaz-ustaz atau tokoh agama yang ‘tidak faham Biologi’. Sifat menghukum, dan kejahilan terhadap ilmu sokongan seperti Biologi, menjadikan manusia semakin skeptik terhadap agama. Suatu kemalangan.
Namun, andaikata Yasmin Ahmad mengkaji lagi, beliau mungkin akan memperbaiki pandangannya tentang hal ini. Soal anjing merembeskan peluh daripada lidah itulah sebenarnya asas hukuman samak jilatan anjing yang terdapat di dalam Mazhab Syafie. Oleh kerana anjing sentiasa merembeskan peluh dari lidah, maka kebarangkalian najis untuk berada di lidahnya amat kecil. Justeru, jika lidah yang ‘bersih’ itu pun bekas jilatannya perlu disamak, maka lebih utamalah untuk sentuhan bahagian-bahagian lain pada seekor anjing disamak. Malah, anjing yang tidak disebut sebagai najis di dalam al-Quran itu pun, persentuhannya perlu disamak, maka babi yang diisytiharkan najis oleh al-Quran itu, lebih utamalah untuk ia disamak.
Dalam kes ini, Religious Skepticism mungkin terhasil daripada kombinasi agamawan yang tidak faham Biologi dan pengarah filem yang tidak habis mengkaji agama.
Pandangan skeptik terhadap agama banyak didorong oleh kegagalan agamawan mempertahankan hujah agama dalam bentuk yang seiring dengan pemikiran massa yang berubah dari satu ketika ke satu ketika. Hujah yang tidak berhasil menimbulkan keyakinan, atau menolak terus proses hujah menghujah dan menggunakan kuasa untuk menundukkan soalan atau kritikan (budaya membunuh soalan), menyuburkan lagi pemikiran skeptik orang ramai terhadap agama. Gereja sudah berpengalaman dalam krisis ini, mudah-mudahan kita Umat Islam mempelajari sesuatu mengenainya.
Apatah lagi, ada agamawan terbabit dalam salah laku yang bertentangan dengan imej yang sepatutnya dipertahankan. Perbuatan mendera isteri oleh ustaz atau oleh bukan ustaz tetapi atas nama agama, memutarbelikan hujah untuk memenangkan diri (misalnya berkata, Allah melaknat isteri yang menolak kehendak suami, tetapi tiada hadith yang menyebut Allah melaknat suami yang menolak kehendak isteri!), pecah amanah, pengotor pada pakaian dan penampilan diri, menerukkan lagi penyebaran gejala Religious Skepticism ini.
Dalam masa yang sama, pendekatan menghukum dan menghukum terus menerus digunakan semasa kredibiliti agamawan atau institusi agamawan berada di dalam krisis.
Sesungguhnya gejala ini boleh diperbaiki jika pendakwah dan agamawan mampu untuk mengusahakan beberapa perubahan. Sikap menyindir, menghukum, menyerang, tanpa kesimbangan dialog, diskusi dan lain-lain bentuk engagement, tidak banyak membantu.
PENDAKWAH MAMPU MENGUSAHAKAN PERUBAHAN
Jika perubahan itu mesti bermula daripada diri, maka usahakanlah perubahan pada diri kita, selaku pendakwah untuk lebih bertenang dan teliti dalam menghalusi dakyah-dakyah pemikiran skeptik terhadap agama ini. Andai mereka tidak mahu berubah, lancang mengkritik tetapi kurang mahu mengkaji dan mendalami secara adil, itu terserah kepada mereka. Religious Skepticism ialah penyakit. Lalu penganutnya harus dilihat sebagai orang sakit.
Bagi pendakwah yang yakin akan kesihatan pemikiran dan kepercayaannya, merekalah yang selayaknya untuk mengusahakan perubahan. Kita ubah cara kita memberikan penyelesaian, cara kita menguruskan cabaran, kerana kita mampu berbuat demikian. Jangan terlalu gelojoh menyerang, menentang, menghukum, ketika kita sendiri bukanlah saingan yang dihormati lawan (jika boleh disebut demikian).
Pendakwah yang hebat mampu mengakui kelemahan dan memperbaikinya. Andai golongan yang skeptik terhadap agama mahu terus ego dalam mempertahankan pandangan mereka, itu urusan mereka. Namun Islam yang dijulang pendakwah, menjadikan kita bersedia untuk mengambil sebahagian tanggungjawab memperbaiki keadaan. Memperbaiki cara kita berdakwah, mempunyai banyak faedah yang boleh meredakan penyakit minda ini.
SISI LAIN PANDANGAN HABIB BOURGUIBA
Berbalik kepada persoalan Habib Bourguiba, harus kita perhatikan sedikit.
Memang al-Quran berkata sebaliknya, Sunnah juga menegaskan sebaliknya. Malah Sejarah juga membuktikan sebaliknya. Namun Habib Bourguiba mungkin tidak memandang itu semua. Apa yang dijadikan asas pandangannya ialah pada apa yang ada di depan mata.
Benarkah umat Islam lebih produktif di bulan Ramadhan?
Tinggalkan Tunisia dan mari lihat keadaan kita di Malaysia.
Pada bulan Ramadhan, kita tidak boleh bermesyuarat dengan baik. Semua orang kebingungan dan lesu tanpa mampu memberikan idea yang bernas. Jika ada projek besar yang mahu dibuat, semua meminta agar ia dibincangkan selepas Raya! Malah jika di bulan-bulan lain kita habis kerja jam 5 petang, di bulan Ramadhan kita tinggalkan pejabat jam 4 petang. Semuanya gara-gara Bazar Ramadhan!
Maka, tidakkah itu semua bukti bahawa kita tidak produktif di bulan Ramadhan?
Silapnya pada Habib Bourghuiba ialah kerana beliau menyalahkan puasa sebagai puncanya, dan bukan manusia.
PELIK
Jika anda ternampak sebuah kereta Mercedez ‘mata belalang’ tersadai di tepi jalan kerana terlanggar tiang lampu, apakah anda akan menyalahkan Mercedez?
“Bodoh betullah syarikat Mercedez ini. Bagaimana mereka boleh buat kereta yang langgar tiang lampu!” kritik seorang yang bermazhab Habib Bourguiba.
Mustahil.
Tiada siapa yang akan menyalahkan Mercedez.
Semua orang akan menyalahkan pemandu Mercedez itu.
“Macam manalah dia memandu. Sudah diberi Mercedez pun, masih terbabas melanggar tiang lampu!” kata-kata yang lebih lurus dengan kebenaran.
Silapnya Habib Bourguiba ialah, dia itu menyalahkan puasa dan Ramadhan sebagai punca rakyatnya tidak produktif. Suatu peringkat Religious Skepticism yang kritikal.
Justeru, jika kita tidak bersetuju dengan polisi Habib Bourguiba, maka buktikanlah dengan perbuatan. Buktikan Ramadhan ini, anda produktif, dinamik, aktif bekerja, dan tidak terjejas untuk buat apa sahaja, termasuk mungkin turun berkempen di Permatang Pasir!
Tetapi, jika kita bermati-matian memaki hamun Habib Bourguiba kerana tidak bersetuju dengannya, tetapi kita tidak bermaya, tidak produktif atau gagal untuk kekal normal di bulan Ramadhan, maka segala ayat al-Quran dan al-Hadith yang digunakan, serta fakta Sejarah yang dibentang, menjadi retorik serta menyuburkan lagi Religious Skepticism!
Anda mampu mengubahnya!